Halo Bunda dan Ayah..
Masih ragu untuk beralih ke popok kain?
Berikut beberapa alasan yang bisa Ayah Bunda pertimbangkan:
1.Lebih Murah
Rata-rata bayi menggunakan popok sampai dengan masa belajar potty training (belajar menggunakan toilet) adalah 2 tahun.
Jika dalam sehari anak anda memakai 6 buah popok kain, dengan menggunakan harga pospak standar seharga @ Rp. 1500,- maka dalam sebulan anda harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 1500 x 6 x 365 hari = Rp. 3.285.000,- dalam satu tahun. Atau Rp. 6.570.000,- dalam dua tahun.
Atau jika anda menggunakan popok sekali pakai yang lebih berkualitas (asumsi harga @ Rp. 2500,- ) maka pengeluaran anda adalah Rp. 5.475.000,- dalam satu tahun atau Rp. 10.950.000,- dalam dua tahun.
Dengan popok kain, jika kita menggunakan produksi lokal yang tidak kalah kualitasnya dengan produksi luar negeri dengan harga @ Rp. 80.000,- dan asumsi jumlah kebutuhan popok kain sebanyak 20 buah, maka biaya awal yang harus kita keluarkan adalah sebesar Rp. 1.600.000,-
Asumsi biaya perawatan adalah sebagai berikut: daya mesin cuci 300 watt dengan waktu pencucian 1 hari adalah 1 jam, maka kwh nya adalah 0,3 kwh. Berdasarkan TDL (Tarif Daftar Listrik) bulan Juli 2010, tarif kelas rumah tangga yang termahal adalah RP. 891/kwh. Jadi biaya mencuci jika menggunakan mesin cuci adalah Rp. 268/hari atau Rp. 8.040/bulan.
Lalu jika asumsi penggunaan air sekali cuci adalah 100L (0,1 m3), diketahui tarif air Palyja (PAM Lyonnase Jaya) per awal 2009 adalah Rp. 1.050/m3, sehingga untuk sebagian wilayah Jakarta, biaya air adalah Rp. 105/hari atau Rp. 3.150/ bulan. Adapun pengeluaran deterjen (asumsi boros) sekitar Rp. 15.000/ bln. Jadi jika diperkirakan usia pemakaian popok selama dua tahun, maka biaya yang dikeluarkan adalah sebesar:
Rp.1.600.000,- + [ Rp. (8.040 + 3.150+ 15.000) x 24 bulan ] = Rp. 2.228.560,-
Jadi, bila kita bandingkan pengeluaran antara popok kain versus pospak = Rp. 2.228.560,- versus Rp. 6.570.000,-
2. Lebih Sehat
Pada pospak diketahui terdapat super absorbent polymer (gel penyerap) dan dioksin yang merupakan produk sampingan dari kertas atau tisu yang diputihkan. Sodium Polyacrylate sering dikaitkan dengan sindrom toxic shock dan reaksi alergi yang ternyata juga diketahui bersifat letal terhadap binatang. Pada proses pembuatannya, popok sekali pakai ini melibatkan banyak material kimia. Bahkan material pospak yang diklaim dengan istilah clothlike pun sebenarnya terbuat dari plastik. (Lebih jelasnya bisa cek di http://www.disposablediaper.net/faq.asp?1)
Sedangkan popok kain, walaupun tidak 100% menggunakan material kain, namun popok ini masih jauh lebih sehat karena tidak menggunakan bahan-bahan kimia :)
3. Lebih Ramah Lingkungan
Popok kain dibuat dari material kapas dengan proses yang sederhana. Karena bahan popok ini adalah kain dan bisa dipakai ulang, penggunaan popok kain ini mengharuskan kita untuk membersihkan pup dan pipis si kecil yang menempel pada popok sehingga pup akan secara otomatis masuk ke saluran tinja.
Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa satu bayi bisa menghabiskan 7000 buah popok sekali pakai dalam satu tahun. SATU BAYI!!!! dan popok itu menunggu selama 500 TAHUN untuk bisa terurai. Padahal ada jutaan bayi-bayi di seluruh dunia, dan selalu ada bayi-bayi baru yang datang tiap bulannya.
Sebenarnya masih bisa ditolerir jika kita menggunakan popok sekali pakai yang menjamin produknya biodegradable (terurai dengan mudah), lalu kita juga konsisten membersihkan pup sebelum pospaknya dibuang karena tinja yang masuk ke sumber air bersih dapat meracuni air atau jika perlu juga kita keluarkan isinya untuk membantu alam menguraikannya dengan lebih mudah, juga apabila sistem penanganan sampah kita sangat-sangat oke seperti di negara-negara maju sana. Sayangnya penanganan sampah kita masih belum se ok itu. Kesadaran tiap individu juga kurang bisa diandalkan. Banyak sampah pospak menggunung dan menggenang di sepanjang tepian sungai, menyumbat saluran air dan ujung-ujungnya bikin banjir :(
Jadi Ayah Bunda, calon Ayah Bunda dan semuanya....yuk yuk yuk.... mari kita pikirkan kembali apa yang terbaik buat buah hati kita, dan yang terpenting adalah buat lingkungan kita.. Karena perubahan terjadi dari hal-hal yang kecil, dari individu-individu yang bersatu, ibaratnya seperti sapu lidi: kalau cuma satu batang, hasilnya tidak akan se efektif jika 1000batang, 500 batang atau bahkan hanya 50 batang saja. Dan umpamanya batang-batang tersebut adalah diri kita yang menjadi sapu pembersih, bayangkan lingkungan baru yang akan kita dapatkan.
selamatkan bumi dimulai dari hal2 sepele yg begitu dekat disekitar kita.semangat go green!!
Masih ragu untuk beralih ke popok kain?
Berikut beberapa alasan yang bisa Ayah Bunda pertimbangkan:
1.Lebih Murah
Rata-rata bayi menggunakan popok sampai dengan masa belajar potty training (belajar menggunakan toilet) adalah 2 tahun.
Jika dalam sehari anak anda memakai 6 buah popok kain, dengan menggunakan harga pospak standar seharga @ Rp. 1500,- maka dalam sebulan anda harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 1500 x 6 x 365 hari = Rp. 3.285.000,- dalam satu tahun. Atau Rp. 6.570.000,- dalam dua tahun.
Atau jika anda menggunakan popok sekali pakai yang lebih berkualitas (asumsi harga @ Rp. 2500,- ) maka pengeluaran anda adalah Rp. 5.475.000,- dalam satu tahun atau Rp. 10.950.000,- dalam dua tahun.
Dengan popok kain, jika kita menggunakan produksi lokal yang tidak kalah kualitasnya dengan produksi luar negeri dengan harga @ Rp. 80.000,- dan asumsi jumlah kebutuhan popok kain sebanyak 20 buah, maka biaya awal yang harus kita keluarkan adalah sebesar Rp. 1.600.000,-
Asumsi biaya perawatan adalah sebagai berikut: daya mesin cuci 300 watt dengan waktu pencucian 1 hari adalah 1 jam, maka kwh nya adalah 0,3 kwh. Berdasarkan TDL (Tarif Daftar Listrik) bulan Juli 2010, tarif kelas rumah tangga yang termahal adalah RP. 891/kwh. Jadi biaya mencuci jika menggunakan mesin cuci adalah Rp. 268/hari atau Rp. 8.040/bulan.
Lalu jika asumsi penggunaan air sekali cuci adalah 100L (0,1 m3), diketahui tarif air Palyja (PAM Lyonnase Jaya) per awal 2009 adalah Rp. 1.050/m3, sehingga untuk sebagian wilayah Jakarta, biaya air adalah Rp. 105/hari atau Rp. 3.150/ bulan. Adapun pengeluaran deterjen (asumsi boros) sekitar Rp. 15.000/ bln. Jadi jika diperkirakan usia pemakaian popok selama dua tahun, maka biaya yang dikeluarkan adalah sebesar:
Rp.1.600.000,- + [ Rp. (8.040 + 3.150+ 15.000) x 24 bulan ] = Rp. 2.228.560,-
Jadi, bila kita bandingkan pengeluaran antara popok kain versus pospak = Rp. 2.228.560,- versus Rp. 6.570.000,-
2. Lebih Sehat
Pada pospak diketahui terdapat super absorbent polymer (gel penyerap) dan dioksin yang merupakan produk sampingan dari kertas atau tisu yang diputihkan. Sodium Polyacrylate sering dikaitkan dengan sindrom toxic shock dan reaksi alergi yang ternyata juga diketahui bersifat letal terhadap binatang. Pada proses pembuatannya, popok sekali pakai ini melibatkan banyak material kimia. Bahkan material pospak yang diklaim dengan istilah clothlike pun sebenarnya terbuat dari plastik. (Lebih jelasnya bisa cek di http://www.disposablediaper.net/faq.asp?1)
Sedangkan popok kain, walaupun tidak 100% menggunakan material kain, namun popok ini masih jauh lebih sehat karena tidak menggunakan bahan-bahan kimia :)
3. Lebih Ramah Lingkungan
Popok kain dibuat dari material kapas dengan proses yang sederhana. Karena bahan popok ini adalah kain dan bisa dipakai ulang, penggunaan popok kain ini mengharuskan kita untuk membersihkan pup dan pipis si kecil yang menempel pada popok sehingga pup akan secara otomatis masuk ke saluran tinja.
Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa satu bayi bisa menghabiskan 7000 buah popok sekali pakai dalam satu tahun. SATU BAYI!!!! dan popok itu menunggu selama 500 TAHUN untuk bisa terurai. Padahal ada jutaan bayi-bayi di seluruh dunia, dan selalu ada bayi-bayi baru yang datang tiap bulannya.
Sebenarnya masih bisa ditolerir jika kita menggunakan popok sekali pakai yang menjamin produknya biodegradable (terurai dengan mudah), lalu kita juga konsisten membersihkan pup sebelum pospaknya dibuang karena tinja yang masuk ke sumber air bersih dapat meracuni air atau jika perlu juga kita keluarkan isinya untuk membantu alam menguraikannya dengan lebih mudah, juga apabila sistem penanganan sampah kita sangat-sangat oke seperti di negara-negara maju sana. Sayangnya penanganan sampah kita masih belum se ok itu. Kesadaran tiap individu juga kurang bisa diandalkan. Banyak sampah pospak menggunung dan menggenang di sepanjang tepian sungai, menyumbat saluran air dan ujung-ujungnya bikin banjir :(
Jadi Ayah Bunda, calon Ayah Bunda dan semuanya....yuk yuk yuk.... mari kita pikirkan kembali apa yang terbaik buat buah hati kita, dan yang terpenting adalah buat lingkungan kita.. Karena perubahan terjadi dari hal-hal yang kecil, dari individu-individu yang bersatu, ibaratnya seperti sapu lidi: kalau cuma satu batang, hasilnya tidak akan se efektif jika 1000batang, 500 batang atau bahkan hanya 50 batang saja. Dan umpamanya batang-batang tersebut adalah diri kita yang menjadi sapu pembersih, bayangkan lingkungan baru yang akan kita dapatkan.
selamatkan bumi dimulai dari hal2 sepele yg begitu dekat disekitar kita.semangat go green!!




